Gin

an average
frontend developer

Tak Kenal, Tak Sayang, Pikiran Singkat (dan Kabur) tentang Open Source

Kadang-kadang sebuah pertanyaan yang dilontarkan sekelebatan, bisa membuat saya merenung-renung sampai beberapa hari. Kali ini, saya merenungkan open source. Renungan singkat dan berkabut.

By: Gin|29/01/2022|Technology

Kadang-kadang sebuah pertanyaan yang dilontarkan sekelebatan, bisa membuat saya merenung-renung sampai beberapa hari. Begitulah pada suatu hari Jumat yang panas tapi lembab, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, satu jam lagi kita akan menekan tombol clock out untuk mengakhiri hari kerja, lalu menikmati akhir pekan. Kami sedang bercakap-cakap di google meet, agendanya untuk membahas sebuah bug issue, tapi pokok pembicaraan hanya terjadi sepanjang lima menit, selebihnya, kami bercakap-cakap tentang apa saja, sekadar melawan bosan dan sepi akibat WFH.

 

"Udah nyoba remix, mas?"

 

Ketika mendengar pertanyaan ini untuk pertama kali, kepala saya terlempar ke beberapa tahun silam, ke sebuah distro linux yang berniat memindahkan experience OS Android ke PC. Meski sesaat kemudian saya tersadar konteksnya, dilontarkan oleh sesama frontend developer, tentu maksud pertanyaannya adalah tentang framework JavaScript yang lagi naik daun.

 

"Udah," saya menjawab singkat. "Nggak suka, euy. Aku tetep lebih suka Svelte. Gondrong-gondrongnya Rich Harris juga pas banget gayanya."

 

Teman saya tertawa. Tapi saya tidak sedang bercanda. Menjatuhkan pilihan pada sebuah framewok tertentu, diluar tuntutan pekerjaan, menurut saya baiknya juga dipengaruhi oleh cara berpikir para pembuatnya. Gaya, gambaran mental, serta sejarah tentang orang-orang yang mengerjakan proyeknya, termasuk ranah yang asik untuk diikuti. Selain Rich Harris, saya juga suka Evan You, yang membikin Vue dan Vite. Evan You, dia adalah penggemar anime garis keras. Dia tidak segan untuk menampakkan diri dengan citra tersebut. Bahkan sejauh ini, rilisan-rilisan VueJS selalu diluncurkan dengan banderol judul-judul anime. Vue 3.0, sebagai rilisan yang terbesar, diberi nama One Piece. Layak sekali, bukan.

 

keren

 

Mencari tahu lebih dalam soal siapa-siapa sosok dibalik teknologi tertentu, apalagi open source, semestinya wajar dan perlu.

 

Mengikuti cuitan-cuitan mereka, serta cuap-cuap mereka yang kadang berseliweran di youtube, kita kadang bisa melihat sedikit karakteristik yang menonjol dan berbeda satu sama lain. Setidaknya, dengan demikian, kita tidak memilih sebuah framework hanya karena FOMO, atau karena dengungannya begitu kencang di lingkar-lingkar sekitar. Atau lebih parah lagi, memakainya tanpa mengerti betul alasannya.

 

Terkait ini, saya teringat pula tentang faker.js. Sebuah package populer di npm untuk membuat data-data dummy. Beberapa pengguna setianya bingung ketika suatu hari, repository faker.js mendadak kosong, dan terdapat sebuah commit dengan judul pesan "endgame", dan di berkas Readme terdapat pesan singkat: "What really happened with Aaron Swartz?"

 

Aaron Swartz, kawan-kawan bisa googling sendiri soal yang satu ini. Sebuah kisah tragis tentang seorang pemuda cemerlang yang berjasa besar bagi kultur dan kegembiraan berinternet.

 

Banyak berita melaporkan bahwa beberapa bulan sebelumnya, Marak Squier, pembuat faker.js, pernah mengutarakan keinginannya untuk memonetasi proyek bikinannya itu.

 

"Respectfully, I am no longer going to support Fortune 500s ( and other smaller sized companies ) with my free work. There isn't much else to say. Take this as an opportunity to send me a six figure yearly contract or fork the project and have someone else work on it," tulis Squier di sebuah github issue.

 

Ironis. Sebuah package yang dipakai oleh banyak sekali manusia. Entah berapa banyak perusahaan besar maupun kecil memakainya untuk melakukan API testing. Tapi tidak ada skema yang mendukung proyek tersebut untuk sustain. Sayangnya di dunia open source, sering kali kita hanya memakainya, tanpa peduli amat kepada pembuatnya. Berapa banyak dari kita sehabis mengetik npm install lalu mengabaikan pesan di terminal bahwa beberapa project yang termaktub didalamnya dengan jujur mengaku jika mereka membutuhkan donasi?

 

Yah, donasi bisa membantu, tapi yang namanya sumbangan, tentu tidak berkelanjutan... runyam nian…